Hai.. Kembali lagi dengan cerpen khayalan saya >.< maaf kalau saja tidak suka. Saya hanya iseng membuatnya hehe. Kritik dan saran jangan lupa :) Arigatou!
*****
Esoknya,
saat istirahat Bryent memanggilku dan ingin berbicara padaku.
“Eh
lo anak kampung, nanti malam gue bakal jemput lo dirumah jam 8. Jangan
kemana-mana. Dan satu lagi. Dandan yang cantik. See you girl.” Kata Bryent.
Aku
hanya melongo melihatnya. Dia berlalu dari hadapanku secepat kilat. Ia
mengajakku pergi ke suatu tempat. Dia akan menjemputku nanti malam jam 8 dan dia
memintaku untuk tampil cantik?. Entah apa yang ada dipikirannya, ia mengajakku
pergi? Ada apa dengannya. Aku bingung dengan sikap dia. Mungkin dia akan jail
padaku. Huuuh. Bodohnya aku tidak berkata apa-apa.
Malam
itupun tiba, aku merasa gugup. Entah kenapa jantungku berdetak begitu kencang.
Apa yang kurasakan? Apakah aku jatuh cinta dengannya? Ah, tidak. Tidak mungkin
itu terjadi. Jam 8 pas. Bryant tiba dirumah ku, dengan mobil sport dan kemeja
biru yang ia kenakan membuat aku terpesona. Tidak biasanya ia seperti ini.
“Heh,
kenapa lo melamun? Apa lo terpesona dengan penampilan gue? Ahaha” Tanya Bryant.
“Ehh,
ngapain gue terpeson sama orang sombong kayak lo.” Jawabku.
“Ahaha,
cantik banget lo malem ini.” Kata Bryant sambil tersenyum.
“Alah,
gak usah gobal deh lo. Btw, kita mau kemana?” tanyaku.
“Ikut
gue aja. Gue bakal ngajak lo ke suatu tempat yang bener-bener istimewa” kata
Bryant membuatku sangat penasaran.
Akhirnya
kita berangkat ke tempat itu. di mobil suasana sangat kaku. Aku bingung apa
yang harusku bicarakan sama dia. Sepertinya dia membaca gelagatku. Lalu ia
memulai pembicaraan terlebih dahulu. Ia bertanya aku suka apa, nama panjangku
apa, hobbyku apa, kapan aku masuk SMA X blablabla. Aku sudah seperti diintrogasi
olehnya. Tapi entah mengapa aku sangat nyaman berada didekatnya, aku merasa
damai dan tentram. Oh tuhan, apakah aku mulai menyukainya?
30
menit kita masih diperjalanan. Tiba-tiba Bryant berhenti di suatu tempat yang
tidak ku kenali, ia memintaku untuk turun.
“Dimana
ini? Kok sepi sih?” tanyaku.
“Disuatu
tempat. Gue gabakal ngapa-ngapain elo. Sekarang lo pake penuutup mata ini dan
ikuti gue.” perintah Bryant sambil menyodorkan sebuah penut up mata.
“Untuk
apa?” tanyaku.
“Udah
gak usah bawel.” Kata Bryant.
Akhirnya
aku menuruti perintah Bryent, aku memakai penutup mata dan berjalan dituntun
olehnya. 10 menit kami berjalan akhirnya kami sampai di sebuah tempat.
“Buka
penutup matanya Key.”kata Bryant.
Aku
membuka perlahan-lahan dan mengamati keadaan sekitar,mataku terasa buyar karna
penutup mata itu. setelah penglihatanku kembali seperti semula aku terkejut
karna tempat ini sangat indah, ada danau dan ditengah danau ada gambar love,
sebuah meja makan hanya untuk dua orang dihamparan lilin dan dibawah sinar
rembulan. Oh tuhan, ini benar-benar istimewa dan tentunya sangat romantis.
Bryant
yang membaca wajahku hanya tersenyum, iya memegang tanganku dengan lembut, dia
melihat wajahku dengan seksama, tatapannya begitu tajam. Jantungku sangat
berdebar-debar.
“Key,
lo tau ga apa tujuan gue bawa lo kesini?” Tanya Bryant.
“Man
ague tau.” Jawabku.
“Jujur,
pertama kali gue ngeliat lo, gue jatuh hati. Karna sikap lo ke gue itu beda
banget. Biasanya cewek-cewek disekolah pada muji gue, tapi lo? Lo malah
nantangin gue. Dan itu yang membuat gue tertarik sama lo key. Gue selalu
mencari tau tentang lo. Gue selalu tau lo pergi kemana dan sama siapa. Gue
bener-bener jatuh cinta sama lo Key, lo itu bener-bener bikin gue melayang
kelangit ke 7. Lo udah kayak bidadari. Key, lo mau gak jadi pacar gue?” kata
Bryant.
“Hah?
Gue gak salah denger? Bryent yang angkuh dan sombong bisa jatuh cinta sama
cewek miskin kaya gue? hahaha, ga lucu lo bercandanya. Gue ga suka sama sikap
lo yang angkuh dan sombong. Dan dihati gue udah ada orang lain. Tapi kalo
misalkan lo bisa ngerubah sikap lo jadi lebih baik. Akan gue pikirin lagi. Maaf
Bryant. Hati gak bisa dibohongi dan dipaksa.” Kataku.
Bryant
hanya tersenyum kecewa. Akhirnya ia mengajakku
pulang. Disepanjang
perjalanan pulang kami hanya
diam. Sampai dirumah aku benar-benar memikirkan apa yang terjadi tadi. Apakah
aku hanya bermimpi? Aku kasihan dengan Bryant. Tapi yasudahlah, memang kalau
urusan hati tidak bisa dipaksakan.
Senin,
saatnya aku berangkat sekolah. Disekolah aku bertemu dengan Bryant, ia
tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya. Hari demi hari aku melihat
perubahan dalam dirinya. Sedikit demi sedikit ia menghilangkan sikap angkuh dan
sombongnya. Ia mulai bisa membantu orang lain yang kesusahan dan ia sudah tidak
membully orang lain lagi. Aku sangat senang, ia bisa bisa berubah lebih baik.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar