Singing Hatsune Miku Welcome To My Blog: Cerpen Khayalan 2

Rabu, 03 Desember 2014

Cerpen Khayalan 2



Hai.. Kembali lagi dengan cerpen khayalan saya >.< maaf kalau saja tidak suka. Saya hanya iseng membuatnya hehe. Kritik dan saran jangan lupa :) Arigatou!
*****
Esoknya, saat istirahat Bryent memanggilku dan ingin berbicara padaku.
“Eh lo anak kampung, nanti malam gue bakal jemput lo dirumah jam 8. Jangan kemana-mana. Dan satu lagi. Dandan yang cantik. See you girl.” Kata Bryent.
Aku hanya melongo melihatnya. Dia berlalu dari hadapanku secepat kilat. Ia mengajakku pergi ke suatu tempat. Dia akan menjemputku nanti malam jam 8 dan dia memintaku untuk tampil cantik?. Entah apa yang ada dipikirannya, ia mengajakku pergi? Ada apa dengannya. Aku bingung dengan sikap dia. Mungkin dia akan jail padaku. Huuuh. Bodohnya aku tidak berkata apa-apa.
Malam itupun tiba, aku merasa gugup. Entah kenapa jantungku berdetak begitu kencang. Apa yang kurasakan? Apakah aku jatuh cinta dengannya? Ah, tidak. Tidak mungkin itu terjadi. Jam 8 pas. Bryant tiba dirumah ku, dengan mobil sport dan kemeja biru yang ia kenakan membuat aku terpesona. Tidak biasanya ia seperti ini.
“Heh, kenapa lo melamun? Apa lo terpesona dengan penampilan gue? Ahaha” Tanya Bryant.
“Ehh, ngapain gue terpeson sama orang sombong kayak lo.” Jawabku.
“Ahaha, cantik banget lo malem ini.” Kata Bryant sambil tersenyum.
“Alah, gak usah gobal deh lo. Btw, kita mau kemana?” tanyaku.
“Ikut gue aja. Gue bakal ngajak lo ke suatu tempat yang bener-bener istimewa” kata Bryant membuatku sangat penasaran.
Akhirnya kita berangkat ke tempat itu. di mobil suasana sangat kaku. Aku bingung apa yang harusku bicarakan sama dia. Sepertinya dia membaca gelagatku. Lalu ia memulai pembicaraan terlebih dahulu. Ia bertanya aku suka apa, nama panjangku apa, hobbyku apa, kapan aku masuk SMA X blablabla. Aku sudah seperti diintrogasi olehnya. Tapi entah mengapa aku sangat nyaman berada didekatnya, aku merasa damai dan tentram. Oh tuhan, apakah aku mulai menyukainya?
30 menit kita masih diperjalanan. Tiba-tiba Bryant berhenti di suatu tempat yang tidak ku kenali, ia memintaku untuk turun.
“Dimana ini? Kok sepi sih?” tanyaku.
“Disuatu tempat. Gue gabakal ngapa-ngapain elo. Sekarang lo pake penuutup mata ini dan ikuti gue.” perintah Bryant sambil menyodorkan sebuah penut up mata.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Udah gak usah bawel.” Kata Bryant.
Akhirnya aku menuruti perintah Bryent, aku memakai penutup mata dan berjalan dituntun olehnya. 10 menit kami berjalan akhirnya kami sampai di sebuah tempat.
“Buka penutup matanya Key.”kata Bryant.
Aku membuka perlahan-lahan dan mengamati keadaan sekitar,mataku terasa buyar karna penutup mata itu. setelah penglihatanku kembali seperti semula aku terkejut karna tempat ini sangat indah, ada danau dan ditengah danau ada gambar love, sebuah meja makan hanya untuk dua orang dihamparan lilin dan dibawah sinar rembulan. Oh tuhan, ini benar-benar istimewa dan tentunya sangat romantis.
Bryant yang membaca wajahku hanya tersenyum, iya memegang tanganku dengan lembut, dia melihat wajahku dengan seksama, tatapannya begitu tajam. Jantungku sangat berdebar-debar.
“Key, lo tau ga apa tujuan gue bawa lo kesini?” Tanya Bryant.
“Man ague tau.” Jawabku.
“Jujur, pertama kali gue ngeliat lo, gue jatuh hati. Karna sikap lo ke gue itu beda banget. Biasanya cewek-cewek disekolah pada muji gue, tapi lo? Lo malah nantangin gue. Dan itu yang membuat gue tertarik sama lo key. Gue selalu mencari tau tentang lo. Gue selalu tau lo pergi kemana dan sama siapa. Gue bener-bener jatuh cinta sama lo Key, lo itu bener-bener bikin gue melayang kelangit ke 7. Lo udah kayak bidadari. Key, lo mau gak jadi pacar gue?” kata Bryant.
“Hah? Gue gak salah denger? Bryent yang angkuh dan sombong bisa jatuh cinta sama cewek miskin kaya gue? hahaha, ga lucu lo bercandanya. Gue ga suka sama sikap lo yang angkuh dan sombong. Dan dihati gue udah ada orang lain. Tapi kalo misalkan lo bisa ngerubah sikap lo jadi lebih baik. Akan gue pikirin lagi. Maaf Bryant. Hati gak bisa dibohongi dan dipaksa.” Kataku.
Bryant hanya tersenyum kecewa. Akhirnya ia mengajakku  pulang. Disepanjang  perjalanan  pulang kami hanya diam. Sampai dirumah aku benar-benar memikirkan apa yang terjadi tadi. Apakah aku hanya bermimpi? Aku kasihan dengan Bryant. Tapi yasudahlah, memang kalau urusan hati tidak bisa dipaksakan.
Senin, saatnya aku berangkat sekolah. Disekolah aku bertemu dengan Bryant, ia tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya. Hari demi hari aku melihat perubahan dalam dirinya. Sedikit demi sedikit ia menghilangkan sikap angkuh dan sombongnya. Ia mulai bisa membantu orang lain yang kesusahan dan ia sudah tidak membully orang lain lagi. Aku sangat senang, ia bisa bisa berubah lebih baik. 

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar